|
Nov 17
2010
|
(Bisakah) Indonesia Menjadi Negara ICTPosted by: riska pratiwi in Blog on Nov 17, 2010 Tagged in: Untagged
|
"Indonesia merupakan negara ICT (Information and Communication Technology), yaitu negara berbasis teknologi informasi dan komunikasi”
(dikutip dari harapan seorang anak bangsa)
Mungkin, untuk saat ini, pernyataan tersebut sedikit berlebihan, mengingat bagaimana kondisi Indonesia sekarang. Namun, tidak ada salahnya jika pernyataan tersebut menjadi sebuah harapan Indonesia di masa yang akan datang. Nah, sekarang yang menjadi pertanyaan dan poin paling penting adalah “sudah siapkah?” Jika kita lihat kondisi keseluruhan Indonesia saat ini, sepertinya belum tampak adanya tanda-tanda kesiapan secara total bagi Indonesia untuk menjadi negara ICT. Banyak faktor, baik dari sisi masyarakat maupun dari pemerintahan, yang menjadi alasan atas ketidaksiapan tersebut.
Merajalelanya kemiskinan dan kurangnya pengetahuan sebagian masyarakat Indonesia mengenai perkembangan global dapat menjadi faktor utamanya. Dua faktor tersebut seringkali berkaitan satu sama lain. Karena kemiskinan, sebagian masyarakat tidak bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai bagi mereka. Otomatis, mereka akan memperoleh kesulitan dalam memperluas wawasan dan pengetahuan. Hal ini, kemudian, dapat memengaruhi pola pikir mereka. Masyarakat yang berada dalam kondisi tersebut cenderung cengkal atau sulit diberi masukan karena merasa bahwa mereka hanyalah “orang kecil”, sehingga, secara tidak sadar, mereka merendahkan diri mereka sendiri. Mereka pun menjadi pesimis terhadap kemampuan diri mereka dalam mengikuti perkembangan yang ada. Akibatnya, kebanyakan dari mereka tidak mau repot-repot untuk memelajari suatu hal yang baru, dalam hal ini yaitu perkembangan teknologi dan telekomunikasi.
Bukti nyata yang bisa kita lihat dalam kenyataan adalah masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami, apalagi menguasai teknologi. Bukankah hal itu menunjukkan masyarakat Indonesia sendiri saja belum siap untuk menjadi masyarakat atau bagian dari negara ICT ? Seperti contoh, mengenai masalah internet. Di negara-negara lain seperti negara-negara Eropa dan Amerika, sebagian besar warganya menganggap internet bukan lagi suatu hal yang istimewa. Internet sudah menjadi suatu fasilitas yang “lumrah” bagi tiap orang dalam berkomunikasi. Sedangkan di Indonesia, fasilitas “lumrah” untuk berkomunikasi masih sebatas telepon, yang bahkan di beberapa daerah di Indonesia tidak semua penduduknya memiliki fasilitas tersebut. Karena itu, tidak mengherankan jika masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengenal internet, apalagi perkembangan teknologi dan komunikasi lainnya.
Dari beberapa hal yang telah dijabarkan di atas, kita bisa melihat bahwa Indonesia masih belum sanggup menjadi negara ICT karena ketidaksiapan masyarakatnya mengikuti perkembangan global, khususnya dalam bidang teknologi dan komunikasi. Meski begitu, kita tidak bisa menyalahkan masyarakat sepenuhnya dan mengatakan bahwa lambatnya perkembangan global secara merata dalam masyarakat diakibatkan karena pola pikir mereka sendiri. Pemerintah seharusnya ikut turun tangan dan membantu masyarakat agar dapat menghadapi serta mengikuti perkembangan tersebut. Lalu, mengapa masalah perkembangan global ini bisa terjadi ? Mungkin salah satu jawaban yang menjadi alasan adalah kurangnya anggaran negara untuk berkonsentrasi pada hal tersebut. Kalau sudah begitu, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa negara kita bisa kekurangan dana untuk hal sepenting itu ? Padahal gencar sekali diberitakan bahwa akan ada perenovasian gedung DPR, studi banding anggota dewan ke Yunani hanya untuk “belajar” etika, dan kegiatan-kegiatan pemerintah lainnya yang semua itu sepertinya mengeluarkan dana anggaran negara yang tidak sedikit.
Apakah “kekurangan dana” ini terjadi karena merajalelanya korupsi ? Bisa jadi. Karena seperti yang kita tahu, Indonesia menjadi juara dalam hal ini. Mungkin korupsi memang bukan satu-satunya alasan Indonesia sulit mengikuti perkembangan global yang pesat, namun korupsi bisa jadi menjadi faktor utama Indonesia menimbun banyak hutang pada negara lain sehingga timbul masalah ini. Jika akar dari permasalahan yang rumit ini tidak dihilangkan, Indonesia akan sangat sulit berkembang, dalam hal ini di bidang teknologi dan komunikasi, apalagi menjadi negara ICT.
Namun tetap tidak ada salahnya jika Indonesia memiliki cita-cita tersebut. Karena untungnya, ada sedikit pencerahan yang lahir dari generasi-generasi muda Indonesia. Kini, mulai bermunculan generasi-generasi muda dengan kemampuan tinggi dalam perkembangan global, khususnya di bidang teknologi. Hal ini terlihat dari prestasi-prestasi tim muda Indonesia pada olimpiade-olimpiade teknologi tingkat internasional. Bahkan pernah diberitakan, seorang siswi sekolah menengah pertama di suatu daerah di Indonesia yang menciptakan sistem pengisian baterai telepon selular dengan listrik yang dihasilkan gerakan sepatu yang ia gunakan berjalan. Generasi-generasi seperti itulah yang menjadi harapan negara Indonesia menuju negara yang lebih maju. Memang, saat ini Indonesia belum siap menjadi negara ICT, tapi bukan tidak mungkin jika generasi-generasi baru inilah yang akan mengubah pernyataan pada awal artikel ini berubah, dari sebuah harapan menjadi suatu kenyataan. Bukan tidak mungkin sepuluh tahun yang akan datang, muncul pernyataan, yang merupakan fakta, bahwa Indonesia merupakan negara ICT. Siapa tahu ?
Penulis : Riska Pratiwi / 110500077

