|
May 23
2009
|
|
Sedemikian besar peranan waktu, Allah bersumpah dengan berbagai kata (waktu). Seperti Wa Al-Lail, Wa An-Nahr, Wa Al-Fajr, dan lain-lain.
Apakah waktu itu ?
- Seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, saat ini, dan masa yang akan datang
- Saat tertentu untuk menyelesaikan sesuatu.
- Kesempatan, tempo, atau peluang.
- Ketika atau saat terjadi sesuatu.
Tempat : Masjid Al – Bitrul, Komplek Pertamina P. Berandan Sumatra Utara, Indonesia.
Pemateri : Ustadz Mahfudz
Kata Waktu dalam Al – Qur’an :
A. Ajal Digunakan untuk menunjukkan saat berakhirnya sesuatu “Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". tiap-tiap umat mempunyai ajal*. Apabila telah datang ajal mereka, Maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya).”(Q.S. Yunus 10 : 49)*Yang dimaksud dengan ajal ialah, masa keruntuhannya.
B. DahrDigunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam semesta ini sejak pertama kali diciptakan hingga punah atau hancur.“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut ? “(Q.S. Al – Insan 76 : 1)“Dan mereka berkata: "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Q.S. Al – Jatsiyah 45 : 24)
C. WaqtBatas akhir kesempatan atau peluang menyelesaikan suatu pekerjaan. “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. “(Q.S. An Nisa 4 : 103)
D. ‘AshrSaat menjelang matahari terbenam, biasa dipakai saat terbenamnya matahari atau masa secara mutlak. “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. “(Q.S. Al ‘Ashr 103 : 1 – 2)
Relativitas WaktuManusia tidak dapat melepaskan diri dari ruang dan waktu, kita mengenal masa lalu, masa kini, dan masa depan. Perhitungan waktu didasarkan pada Surat At Taubah : 36 yaitu setahun adalah dua belas bulan. “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi…. “(Q.S. At Taubah 9 : 36) Waktu yang dialami manusia di dunia berbeda dengan waktu yang dialaminya di akhirat kelak. Sebab dimensi kehidupan akhirat berbeda dengan kehidupan dunia. Perhatikan Q.S. Al Mu’minun ayat 112 berikut :“Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"” Dan Surat Al Kahfi ayat 19 : “Dan Demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah Dia Lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.” Allah Ta’ala berada di luar batas-batas waktu. Hal ini diperjelas oleh Al Qur’an Surat An Nahl ayat 1, kata kerja bentuk lampau dipergunakan oleh Allah Ta’ala untuk suatu peristiwa masa depan. “Telah pasti datangnya ketetapan Allah*, Maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”* Ketetapan Allah di sini ialah hari kiamat yang telah diancamkan kepada orang-orang musyrikin. Bentuk kalimat semacam ini dapat membingungkan kita mengenai makna yang dikandungnya, karena bagi kita kiamat belum datang, tetapi di sisi lain jika memang telah datang seperti bunyi ayat, mengapa pada ayat tersebut dilarang meminta disegerakan kedatangannya. Kebingungan itu akan sirna jika disadari bahwa Alla Ta’ala berada di luar dimensi waktu, karena Dialah Sang Penguasa Waktu. Bagi Allah, masa lalu, masa kini, dan masa datang berada dalam genggaman-Nya. Inilah relativitas waktu dalam Islam, seperti waktu yang ditempuh malaikat untuk menuju hadirat Allah.“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.* “(Q.S. Al Ma’arij 70 : 4)* Maksudnya: malaikat-malaikat dan Jibril jika menghadap Tuhan memakan waktu satu hari. apabila dilakukan oleh manusia, memakan waktu limapuluh ribu tahun. Perhatikan juga firman Allah berikut : “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.*” (Q.S. As Sajadah 32 : 5)* Maksud urusan itu naik kepadanya ialah beritanya yang dibawa oleh malaikat. ayat ini suatu tamsil bagi kebesaran Allah dan keagunganNya. Hal ini didasarkan pada perhitungan manusia bahwa perbedaan system gerak yang dialami oleh pengamat mengakibatkan perbedaan waktu tempuh. Setiap materi membutuhkan waktu, sedangkan Allah tidak memerlukan waktu. “Dan perintah Kami hanyalah satu Perkataan seperti kejapan mata.“ (Q.S. Al Qomar : 50)“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” (Q.S. Yaa Siin 36 : 82) Allah menjadikan alam semesta ini dalam 6 hari, bukan 6 x 24 jam, “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa… “ (Q.S. As Sajadah 32 : 4) bahkan kata tahun bukan berarti 365 hari, karena Nabi Nuh as. hidup selama 950 tahun “Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. 29 : 14) Al Qur’an juga mengisyaratkan perbandingan perhitungan tahun syamsiah dengan tahun qomariah melalui ayat yang menjelaskan lamanya para pemuda beriman yang mendiami gua ( ashabul kahfi) tertidur. “Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). “(Q.S. Al Kahfi 18 : 25)
Tiga ratus pertama merupakan menurut perhitungan Syamsiah, sedangkan penambahan Sembilan tahun merupakan perhitungan Qomariah. Hal ini dikarenakan terdapat selisih sekitar sebelas hari pertahun antara tahun Syamsiah dan tahun Qomariah. Kebenaran al Qur’an terbukti dengan munculnya angka sembilan (9) tahun didapat dari perhitungan 300 x 11 = 3300 hari, atau sama dengan Sembilan (9) tahun.
Bagaimana Mengisi Waktu ?Allah menerangkan dalam Al Quran, bahwa tujuan utama kita diciptakan adalah untuk mengabdi (beribadah) hanya kepadanya.Q.S 1: 5. “Hanya Engkaulah yang Kami sembah*, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan**.”* Na'budu diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, karena berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.** Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri. Q.S 51 : 56.“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Q.S 62 : 10 “Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”
Al Qur-an Memerintahkan Kita Agar Bekerja dengan Sungguh-SungguhAl Qur-an tidak memberi peluang kepada seseorang untuk tidak melakukan suatu aktivitas kerja sepanjang saat yang dialaminya dalam kehidupan dunia ini. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al ‘Ashr. 1. demi masa.2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” dan 2 ayat terakhir Surah Al Insyirah. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain*.8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.* Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah Maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia Maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah. Bahkan Al Qur-an telah menanamkan sikap optimis kepada setiap muslim, 5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Demikian juga kata faraghta pada Surah Al Insyirah yang berasal dari kata faragha ditemui enam kali dalam Al Qur-an dengan berbagai bentuk derivasinya. Arti kata tersebut adalah kosong setelah sebelumnya penuh, secara material dan immaterial. Seperti gelas yang tadinya dipenuhi air kemudian kosong setelah diminum. Atau hati yang tadinya gundah dipenuhi oleh kesedihan dan ketakutan menjadi plong. Faragha tidak digunakan selain pada kekosongan yang didahului oleh kepenuhan, maupun keluangan yang didahului oleh kesibukan. Nabi Muhammad Saw. Menganjurkan umatnya untuk meneladani Allah dalam sifat dan sikap-Nya sesuai dengan kapasitas kita sebagai makhluk-Nya. Firman Allah dalan Q.S. 55 : 29“Setiap waktu Dia dalam kesibukan*.”* Maksudnya: Allah Senantiasa dalam Keadaan Menciptakan, menghidupkan, mematikan, Memelihara, memberi rezki dan lain lain.
Akibat Menyia-nyiakan Waktu. 1. demi masa.2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,(Q.S. 103 : 1 – 2) Kata khusrin mempuyai arti rugi, sesat, celaka, dan lemah yang kesemuanya itu tidak disenangi oleh siapapun. Kata khusrin berbentuk indefinitif atau nakirah yang menggunakan tanwin. Akhiran in pada kata khusrin berarti keragaman dan kebesaran. Sehingga kata khusrin harus dipahami sebagai kerugian, kecelakaan, dan kesesatan yang besar. Sayyidina ‘Ali ra. Berkata, “ Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tapi waktu yang telah berlalu hari ini, tidak mungkin kembali besok .Rasulullah Saw. Juga bersabda,”Dua nikmat yang sering disia-siakan oleh kebanyakan manusia (adalah), kesehatan dan kesempatan (waktu luang yang dimilikinya).”
Cara Mengisi Waktu
Perhatikan firman Allah berikut ini “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(Q.S. 103 : 3) Dari ayat di atas dapat diambil pelajaran bahwa mengisi waktu yang telah dianugerahkan Allah kepada kita yaitu dengan :a. Beriman,b. Beramal sholeh,c. Saling berwasiat (menasehati) dalam kebenaran, dand. Saling menasehati dalam kesabaran.Iman diartikan sebagai pembenaran, termasuk pembenaran hati terhadap apa yang didengar oleh telinga. Pembenaran secara akal saja tidak cukup, yang terpenting adalah pembenaran oleh hati. Iman itu dapat bertambah dan dapat berkurang. Setiap amal yang tidak disertai dengan iman, maka sia-sialah amal tersebut di sisi Allah, seperti amal yang dilakukan oleh orang kafir. Hal ini telah ditegaskan Allah dalam Q.S. Al Furqan 25 : 23 “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan*, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (menjadi sia-sia).”*Yang dimaksud dengan amal mereka disini ialah amal-amal mereka yang baik-baik yang mereka kerjakan di dunia amal-amal itu tak dibalasi oleh Allah karena mereka tidak beriman. Berbicara tentang amal, amal manusia bersumber dari empat daya, yaitu :1. Daya Tubuh : Memiliki keterampilan atau keahlian pada satu atau beberapa bidang (skill)2. Daya Qalbu : Kemampuan moral, etika, estetika, berimajinasi, serta beriman dan merasakan kebesaran Illahi3. Daya Akal : Kemampuan untuk mengembangkan ilmu, pengetahuan, dan teknologi dalam memahami dan memanfaatkan Sunnatulah.4. Daya Hidup : Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, mempertahankan hidup dan kehidupannya, serta kemampuan untuk menghadapi tantangan. Orang yang memiliki akal, selama akal tersebut belum terkalahkan oleh nafsunya, berkewajiban mengatur waktu-waktunya, yaitu :1. Ada waktu yang digunakan untuk bermunajat (berdialog) dengan Allah Robbul ‘alamin2. Ada waktu yang digunakan untuk mengintrospeksi diri (muhasabah)3. Ada waktu yang digunakan untuk belajar (memikirkan ciptaan Allah untuk diambil hikmah dan manfaatnya)4. Ada waktu yang digunakan untuk diri dan keluarganya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Wallahu a’lam………………

