|
Jan 12
2012
|
[BLOG] Serba-serbi: Makna Tersembunyi Dari Bait Lagu Gundul-Gundul PaculPosted by: Pemimpin Redaksi in Blog on Jan 12, 2012 Tagged in: Mahasiswa
|
Ingat lagu "Gundul gundul paculcul" ?
Tembang Jawa ini konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga
dan teman-temannya yang masih remaja ternyata mempunyai arti filosofis yang dalam dan mulia.
Gundul adalah kepala plontos tanpa rambut. Kepala adalah lambang
kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang
keindahan kepala. Jadi, gundul dapat diartikan sebagai kehormatan tanpa mahkota.
Pacul atau yang dalam bahasa Indonesia disebut cangkul adalah alat petani yang terbuat dari lempeng besi berbentuk segi empat yang sering digunakan untuk mengolah sawah. Pacul adalah perlambang kawula rendah, kebanyakan petani.
Gundul pacul mengibaratkan: Seorang pemimpin sesungguhnya bukan
orang yang diberi mahkota. Tetapi ia adalah pembawa pacul untuk
mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Orang Jawa jaman dahulu juga mengistilahkan pacul ialah singkatan dari papat kang ucul (empat hal yang terlepas). Maknanya:
Kemuliaan seseorang tergantung dari 4 hal, yaitu bagaimana menggunakan mata,hidung, telinga dan mulutnya.
1.Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata adil.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.
Gundul-gundul pacul cul, gembelengan..
Nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan..
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar..
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar..
(Bait lagu Gundul-gundul pacul)
GUNDUL GUNDUL PACUL CUL artinya jika seseorang yang kepalanya sudah kehilangan 4 indera yang dimaksud di atas mengakibatkan GEMBELENGAN. Gembelengan memiliki arti "congkak/sombong" dalam bahasa Indonesia.
NYUNGGI- NYUNGGI WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat/orang banyak) dengan gembelengan ( sombong hati), akhirnya berakibat pada wakul ngglimpang.
WAKUL NGGLIMPANG = Wakul atau bakul, tempat menghidangkan nasi jaman dahulu. Artinya: amanah jatuh, tak bisa dipertahankan.
SEGANE DADI SAK LATAR (bahasa jawa, yang secara harafiah berarti nasi tadi tumpah kemana-mana memenuhi jalan di depan rumah) artinya apa yang diamanahkan tadi berantakan, sia sia.
Filosofi Jawa Kuno ini dalam ya maknanya? Bagaimana menurut Anda?

