sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
Masih segar dalam ingatan saya 2 minggu yang lalu salah satu reporter magaz.inc mewawancarai saya seputar pemilihan rector imt nantinya, mulai dari pendidikan sampai dengan pendapat pribadi yang diharapkan, pada dasarnya saya hanya menjelasakan secara umum tentang Bargaining power dan position sendiri dari mahasiswa, karena saya sangat berkeyakinan bahwasanya ketika kita mampu menganalisis tentang bargaining power, maka disanalah kita mampu bebas dan bergerak dengan leluasa, tetapi jika kita tidak tahu dan tidak punya bargaining power sama sekali dalam proses pemilihan rector ini, maka teriakan, orasi dan harapan mahasiswa dalam keterlibatannya langsung tidaklah akan pernah berujung dengan sempurna
Senin kemaren para anggota KPR yang terhormat telah melakukan sosialisasi yang dihadiri mayoritas mahasiswa kampus satu dengan jumlah yang mengkhawatirkan bila di bandingkan dengan jumlah total mahasiswa yang ada, belum lagi perwakilan kampus tiga yang hanya bisa dihitung pakai jari dan tidak adanya keterwakilan satupun dari kampus 2, secara tidak langsung bisa disimpulkan sosialisasi ini kemudian menjadi tidak menyeluruh dengan kemungkinan distorsi informasi yang sangat besar untuk mahasiswa IM TELKOM itu sendiri, sedikitnya respon mahasiswa ini sebenarnya secara tidak langsung harus membuka mata kita semua ada sesuatu yang salah disini, apakah itu kesadaran mahasiswa yang rendah, kepedulian yang minim ataupun sosialisasi yang kurang, saya sendiri secara pribadi tidak akan berkomentar tentang sosialisasi yang dilakukan karena saya berada di cibubur sejak hari rabu kemaren sampai hari minggu untuk mengikuti Forum indonesa muda sebagai satu-satunya perwakilan IM TELKOM yang lolos seleksi sampai dengan hari minggu kemarin, saya mengetahui info akan adanya sosialisasi kpr ini murni dari informasi words of mouth, artinya saya pikir secara tidak langsung sosialisasi tentang pemilihan rector itu sudah dilaksanakan dan menyebar dengan baik .
Saya sedikit masih terheran-heran dengan sikap mahasiswa IMT yang sangat minim dalam berpartisipasi untuk mengikuti sosialisasi ini, secara umum sebenarnya sosialisasi ini sangat menarik, baru datangpun kita sudah disuguhi snack dengan 4 kue dan 1 gelas air mineral yang membuktikan dana yang dipersiapakanpun tidak sedikit, belum lagi bungkusan2 souvenir yang sudah bisa diduga akan diberikan bagi penanya di sesi Tanya-jawab, tapi kenapa tingkat partisipasinya rendah?? Saya mencemaskan kesadaran individu kita dengan jiwa mahasiswa yang mulai hilang dan menggeneralisasikan bahwa kita tidak mampu melakukan apapun, hey kawan ingatlah masa depan bangsa ini ada ditangan kita, perubahan itu tidak instan, butuh proses dan ayo kita lewati proses itu bersama , kita buktikan kalo kita mau, mampu untuk merubah bangsa ini setidaknya dari kampus dengan adanya self power yang akan menghasilkan people power, bukankah bersama jadi lebih baik, ingatlah ini bukan tentang aku,kamu atau dia, tapi ini tentang kita bersama
Secara umum isi dari penjelasan tentang sosialisasi KPR itu sangatlah sederhana, pak Gadang sebagai ketua KPR hanya menjelaskan 1 slide yang berisi tentang jadwal yang akan diterapkan dari mulai sosialisasi sampai dengan rector terpilih yang akan sulit anda baca dari kursi belakang karena hurufnya yang rada kecil apalagi ditayangkan di outdoor, tidak ada penjelasan spesifik diawal bagaimana dengan posisi karyawan dan mahasiswa di sana serta penjelasan filosofis tentang ketetapan jumlah calon, inilah yang kemudian membuat saya bertanya-tanya dalam hati dan mulai untuk mencurahkan sebagian kecil dari pertanyaan saya tentang bargaining position mahasiswa dalam proses pemilihan rector ini,
Secara umum saya hanya menanyakan 3 pertanyaan
1. Landasan filosofis terkait penentuan calon rector yang hanya 3?
2. Landasan dasar adanya one way communication dalam public hearing bukan two way communications?
3. Bargaining position terkait dengan jumlah karyawan dan mahasiswa dalam proses pemilihan nantinya?
Pertanyaan saya di jawab langsung oleh pak Gadang yang juga menyuruh saya berdiri tanpa melakukan pembelaan atas argument saya, karena sesi Tanya jawab yang terbatas, beliau mulai menjawab pertanyaan saya dengan menyatakan pertanyaan saya sedikit “susah” untuk dijawab, tapi menurut saya itu adalah pandangan yang justru memang filosofis dan harus dijelaskan dengan sangat spesifik, dan ternyata keluarlah informasi-informasi baru yang membuat kita tahu tentang proses pemilihan rector ini kawan, dan karena pertanyaan ini saya mendapat flashdisc Kingston 2gb kawan sebagai hadiah hehehe.. dan ini adalah bukti bahwa ketika kita berpartisipasi dalam kampus kitapun mendapatkan hasil hehehehe trus siapa bilang kalo jadi mahasiswa aktif itu percuma 
pertanyaan pertama saya tidak dijawab terlalu baik oleh pak gadang tapi menjadi sangat jelas oleh bu Helni, bahwasanya pemilihan 3 calon tersebut merupakan proses berulang yang telah dilakukan di IMT ini dan itu bisa dijadikan dasar hokum, saya telah mengklarifikasi ini ke teman hokum saya di unpad dan itu benar, kita tidak bisa mengganggu gugat itu karena dasar hokum yang ada dan sangat kuat.
Apa yang harus kita lakukan tentang dasar hokum ini adalah berharap nantinya tidak lagi menjadi tiga, tapi diamandemen atau apalah istilah hukumnya untuk dirubah agar menjadi lebih dari 3 selagi memang orang yang bersangkutan mampu dan mempunyai persyaratan yang cukup untuk menjadi rector. Analoginya seperti ini kawan : apabila persyaratan rector itu ada 10 dan ternyata ada 5 orang yang mampu memenuhi ke-10 syarat itu maka dapat kita simpulkan bahwa mereka semua kompeten dan mampu memimpin IM TELKOM, masalah kemudian terjadi bila ternyata dari 5 itu harus disingkirkan 2 orang karena regulasi hanya menuntut kita menggoalkan 3 pasangan, maka secara tidak langsung kita telah membunuh 2 kesempatan orang yang berkompeten tanpa cacat untuk memimpin kampus ini, sekarang memang tidak bisa dirubah karena telah menjadi ketetapan dan kita memang harus mendukung itu, tapi saya bermimpi mungkin ditahun berikutnya kita bisa terlepas dari regulasi ini
Pertanyaan no 2 dan 3 ternyata erat kaitannya, public hearing dilakukan 1 kali karena mahasiswa dan karyawan tidak memiliki hak untuk memilih, melainkan mahasiswa dan karyawan hanya boleh menuangkan aspirasinya untuk kemudian dimasukkan dalam kotak aspirasi untuk disampaikan kepada pihak yang berwenang, jadi inti dari public hearing adalah untuk memperkenalkan calon dan membuat mahasiswa tau apakah calon ini layak atau tidak, dalam public hearing inipun waktu yang diberi hanyalah 15menit saja tidak lebih.
Dari penjelasan itu saya menyimpulkan bahwa mahasiswa tidak memiliki bargaining position apapun dalam pemiliohan rector ini, kita tidak memiliki hak suara dan hanya menyalurkan aspirasi saja, makanya saya sedikit bingung, bisakah nantinya kita membuat suatu kontrak politik dengan calon-calon rector tersebut untuk melakukan sebuah perubahan bila kita tidak mempunyai daya tawar sama sekali? Saya hanya mengajak kawan-kawan membayangkan apakah yang akan calon rector paparkan dalam waktu 15 menit didepan kita semua?? Mereka pastinya harus menyampaikan profile, visi, misi serta pengalaman kerja, yang diiringi pembawaan yang sopan dan tepuk tangan meriah, akankah itu cukup untuk menyampaikan pesan secara konkret dan menyeluruh hanya dalam 1 kali kesempatan tanpa 2 ways communications?
Ketua bem kita ngajaibul telah memaparkan hal yang sangat bagus menurut saya, yang mungkin kurang lebih saya tangkap seperti ini, bahwasanya ketika bem diajak rapat mereka telah meminta untuk melihat proses rapat senat nantinya yang akan memilih rector dan mereka pun hanya meminta hak untuk berbicara dan mendengar bukan untuk memilih untuk memastikan proses yang berjalan seperti apa, tapi ternyata mekanisme seleksi itu semua pada dasarnya ditentukan oleh senat, dan masih belum final sebelum senat memutuskannya, secara umum senat akan mengadakan rapat 3 kali, yaitu rapat senat 1 rapat senat 2 dan pemilihan rector. Artinya bargaining position 100% ada ditangan senat itu sendiri, dari mulai regulasi sampai dengan suara yang menentukan siapa rector tepilih, sedangkan mahasiswa dan karyawan hanyalah tempat pengumpulan aspirasi tanpa bargaining power dengan feedback yang masih dalam tandatanya besar, jadi tidaklah heran kalau tidak ada 1 orang karyawanpun yang mau bertanya dalam proses sosialisasi itu, mungkin secara tidak langsung mereka sadar apa yang akan terjadi kedepannya, berbicara sekarang memang tidak akan merubah ketetapan yang telah dibuat, tapi berbicara sekarang akan membuat perubahan mendasar untuk 5-10 tahun yang akan datang, kita muda, beda dan berbahaya (superman is dead), ingat kawan bangsa ini butuh proses untuk merdeka dan para pendahulu, founding father tidak pernah menyerah untuk berjuang, tidak kemarin, sekarang, tapi mungkin esok, berandai-andai dengan mimpi dan harapan bukanlah suatu larangan, trus kenapa kita tidak mencoba bermimpi untuk menjadikan kampus kita lebih baik dengan langkah konkret yang kita lakukan sekarang dan akan terwujud nantinya, bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya….
Kawan menutup kata terakhir ini, saya teringat apa yang disampaikan pak choki dalam statement beliau di akhir acara, marilah kita dukung dan kita doakan agar proses dan hasil yang akan dilakukan oleh komisi pemilihan raya ini dapat berjalan dengan baik, lancar dan menghasilkan rector yang nantinya mampu menyampaikan dan menampung aspirasi kita serta benar2 membawa perubahan besar kearah yang positif bagi seluruh stake holder yang ada, IM TELKOM didadaku ?
|
|
|
|
Last Edit: 2010/05/08 10:31 By sef im telkom.Reason: biar mantappp, yg tadi belum lengkap
|
|
0
users have
thanked:
|
sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
|
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
madbeat
IMT ABG
Thanks given: 0
Thanks received: 0
Posts: 32 Points: 7
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
nais inpoh gan
|
|
|
|
Willkommen Die Roten
We're Deutschemeister..keep stern des sudens flying high |
|
0
users have
thanked:
|
rizkysaputra
Mungkin Tukang Spam
Thanks given: 0
Thanks received: 0
Posts: 9 Points: 22
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
|
Salah besar kalo KPR ga melakukan sosialisasi tentang program ini, karena acara ini sendiri udah diannounce di students, facebook, dan mading. tapi kalo di kampus 2 sendiri emang ga ada sosialisasi lebih lanjut atu follow up kepada mahasiswa sehingga (mungkin) point of interest dari mahasiswa di kampus 2 yang agak rendah.
Selain itu, saya ga ngerti apa sih alasan fundamental KPR melakukan sosialisasi ini di hari senin jam segitu di mana banyak mahasiswa yang kuliah, sehingga tidak bisa meninggalkan kelas. Mungkin lain halnya kalo acara ini diadakan di luar jam kuliah seperti debat terbuka calon ketua BEM. Mungkin alasan tidak bisa meninggalkan kelas adalah alasan yang klasik, tapi percaya atau tidak, alasan itu merupakan alasan yang kuat bagi mahasiswa untuk ga menghadiri acara itu.
Untuk konten pertanyaan bang bowo serta jawaban dari KPR, untuk saat ini belom bisa saya tanggapi, LAGI BURU BURU BANG...haha
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
|
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
|
ya... saya sendiri sebagai orang yg mengikuti kegiatan tersebut, cukup miris. apalagi klo melihat antusiasme dari mahasiswa IMT yang bisa dibilang sangat sedikit, bayangkan.. mahasiswa yg berjumlah ribuan, hanya datang sekitar puluhan orang.. tidak sampai ratusan. ada apa dengan mahasiswa IMT ??
Saya tambah heran.... :
Ketika mahasiswa IMT akan diwajibkan menggunakan seragam ketika pindah di DK, mahasiswa dengan penuh semangat MENOLAK. tapi ketika IMT akan memilih pemimpin baru yang akan mengarahkan akan kemana institusi ini, mereka tidak perduli.. apakah mereka tidak sadar, klo kepentingan mereka tergantung dari siapa pemimpin yg terpilih. Tidak bisa dibayangkan jika pemimpin yg terpilih adalah pemimpin yg jauh dari kriteria yang layak... mau seperti apa kampus ini?
Solusi yang mungkin bisa saya tawarkan dalam situasi mahasiswa yang kurang antusias terhadap hal-hal seperti ini :
1. Optimalisasi peran BEM, baik tingkat pusat maupun tingkat Fakultas. Sosialisasikan terus proses pemilihan rektor ini, tidak perduli mereka akan menanggapi dengan serius atau cukup mendengar saja, minimal mereka tau seberapa penting pemilihan rektor ini bagi mereka.
2. Ketika masa hearing, klo perlu.. rekam semua ucapan dari para calon.. terus di putar di monitor2 yg ada di semua kampus, selama 1 - 2 hari, setidaknya... mahasiswa yg tidak bisa hadir, bisa melihat paparan visi, misi dan proker dari para calon dari media ini.
3. Sebarkan berbagai flayer, poster... mengenain proses pemilihan rektor ini.. mumpung waktu yg semakin mepet.....
ya.. mungkin itu sedikit saran... semoga saja ada yg mendengarkan.. terutama orang2 BEM...
NB:
- Bowo.. tulisanmu panjang amat... ampe bingung bacanya.. he..he..
- Buat anak2 BEM, klo bisa aktif disini, jangan cuman kominfo-nya aja.. optimalkan media internal kita... walaupun ada facebook... ya.. atur2 lah enaknya gimana... yg penting.. anak2 BEM aktif disini....
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
Jib2Here
wahwah...koq bisa y?gag kpikiran sm skali..weuw
IMT ABG
Thanks given: 0
Thanks received: 0
Posts: 27 Points: 93
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
Menarik sekali apa yang disampaikan anggota DPK (ex-SEF President), mungkin sedikit klarifikasi dari saya, sebagai representatif dr lembaga Kemahasiswaan, saya dr BEM dan aditian dr DPM hanya mengecek tindak lanjut dari kesanggupan YPT atas permintaan kami ttg keterlibatan mahasiswa di berbagai kebijakan kampus, khususnya dalam momentum pemilihan rektor, apakah sudah benar2 disampaikan sampai ke panitia KPR...
Walaupun jawaban KPR saat sosialisasi kurang memuaskan (bagi saya) tetapi usaha BEM dan DPM untuk mengawal proses berjalannya pemilihan rektor...InsyaAllah sudah menemukan titik cerah, setidaknya walaupun kita belum mempunyai Majelis Wali Amanat layaknya kampus2 negeri yang berfungsi sebagai Controler atas berbagai kebijakan kampus, untuk fase ini dan mendatang InsyaA, bargaining power mahasiswa lebih baik,
salah satunya bisa dilihat dari proses pemilihan rektor yang sebelumnya benar2 tertutup dan penuh dengan intrik2 politis antara (PT Telkom,YPT dan IMT)yang kita tidak tahu sama sekali .Namun untuk kali ini akan pemilihan tersebut lebih transparan yang dibuktikan dengan adanya perwakilan mahasiswa (saudari Aish- Risha Novella) yang menjadi anggota KPR, dan dibolehkannya representatif dari mahasiswa (BEM dan DPM) oleh Ketua YPT masuk ke dalam sidang senat untuk menyampaikan pendapatnya (hak bicara, sebab hak suara semata-mata hanya dimiliki dewan senat)dalam rapat yang menentukan rektor IMT.
Memang proses ini masih sangat panjang....tetap harus terus berusaha agar kita mempunyai kewenangan lebih, saat ini kita baru bisa menyeleksi calon2 rektor (dari 5 menjadi 3), untuk kedepannya..kita harus bisa menentukan inilah rektor kita, bukan semata2 menyeleksi (from selection into election by IMT students)..
Hidup Mahasiswa!!!
@KangHarry: mhn maaf apabila anak2 BEM msh sedikit yg aktif di students (termasuk saya jg)...nanti sy sampaikan, sebagai aktivis kmpus hrs jd aktivis jg di students...
-------------------------------------------------------------
Yukyukyuk
-Tetep Kritis dan Berpikir positif-
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
|
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
|
he..he.. iya neeh.. biar rame Studentsnya.. optimalisasi sarana komunikasi Made in Students... he..he.. kasian anak2 CCI bikin... tapi klo gak di pake khan mubazir... betul..betul...betul...
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
Rizky Saputra wrote:
Salah besar kalo KPR ga melakukan sosialisasi tentang program ini, karena acara ini sendiri udah diannounce di students, facebook, dan mading. tapi kalo di kampus 2 sendiri emang ga ada sosialisasi lebih lanjut atu follow up kepada mahasiswa sehingga (mungkin) point of interest dari mahasiswa di kampus 2 yang agak rendah.
Selain itu, saya ga ngerti apa sih alasan fundamental KPR melakukan sosialisasi ini di hari senin jam segitu di mana banyak mahasiswa yang kuliah, sehingga tidak bisa meninggalkan kelas. Mungkin lain halnya kalo acara ini diadakan di luar jam kuliah seperti debat terbuka calon ketua BEM. Mungkin alasan tidak bisa meninggalkan kelas adalah alasan yang klasik, tapi percaya atau tidak, alasan itu merupakan alasan yang kuat bagi mahasiswa untuk ga menghadiri acara itu.
Untuk konten pertanyaan bang bowo serta jawaban dari KPR, untuk saat ini belom bisa saya tanggapi, LAGI BURU BURU BANG...haha
boleh juga lhoo shame argumennya, truss buru2 mau kemana ni, lagi jam booking yang sibuk yak
ayoo shame kita majuin kampus 2, artikel ini udah saya kirim ke tim advokasi abk lho
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
bosshary wrote:
ya... saya sendiri sebagai orang yg mengikuti kegiatan tersebut, cukup miris. apalagi klo melihat antusiasme dari mahasiswa IMT yang bisa dibilang sangat sedikit, bayangkan.. mahasiswa yg berjumlah ribuan, hanya datang sekitar puluhan orang.. tidak sampai ratusan. ada apa dengan mahasiswa IMT ??
Saya tambah heran.... :
Ketika mahasiswa IMT akan diwajibkan menggunakan seragam ketika pindah di DK, mahasiswa dengan penuh semangat MENOLAK. tapi ketika IMT akan memilih pemimpin baru yang akan mengarahkan akan kemana institusi ini, mereka tidak perduli.. apakah mereka tidak sadar, klo kepentingan mereka tergantung dari siapa pemimpin yg terpilih. Tidak bisa dibayangkan jika pemimpin yg terpilih adalah pemimpin yg jauh dari kriteria yang layak... mau seperti apa kampus ini?
Solusi yang mungkin bisa saya tawarkan dalam situasi mahasiswa yang kurang antusias terhadap hal-hal seperti ini :
1. Optimalisasi peran BEM, baik tingkat pusat maupun tingkat Fakultas. Sosialisasikan terus proses pemilihan rektor ini, tidak perduli mereka akan menanggapi dengan serius atau cukup mendengar saja, minimal mereka tau seberapa penting pemilihan rektor ini bagi mereka.
2. Ketika masa hearing, klo perlu.. rekam semua ucapan dari para calon.. terus di putar di monitor2 yg ada di semua kampus, selama 1 - 2 hari, setidaknya... mahasiswa yg tidak bisa hadir, bisa melihat paparan visi, misi dan proker dari para calon dari media ini.
3. Sebarkan berbagai flayer, poster... mengenain proses pemilihan rektor ini.. mumpung waktu yg semakin mepet.....
ya.. mungkin itu sedikit saran... semoga saja ada yg mendengarkan.. terutama orang2 BEM...
NB:
- Bowo.. tulisanmu panjang amat... ampe bingung bacanya.. he..he..
- Buat anak2 BEM, klo bisa aktif disini, jangan cuman kominfo-nya aja.. optimalkan media internal kita... walaupun ada facebook... ya.. atur2 lah enaknya gimana... yg penting.. anak2 BEM aktif disini....
mantappp bos harry
sory kalo tulisannya panjang bos, tapi saya punya banyak lagi tulisan yang lebih panjang dari ini
karena udah banyak komen bakal saya posting lagi dee tulisan2 saya
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
Jib wrote:
Menarik sekali apa yang disampaikan anggota DPK (ex-SEF President), mungkin sedikit klarifikasi dari saya, sebagai representatif dr lembaga Kemahasiswaan, saya dr BEM dan aditian dr DPM hanya mengecek tindak lanjut dari kesanggupan YPT atas permintaan kami ttg keterlibatan mahasiswa di berbagai kebijakan kampus, khususnya dalam momentum pemilihan rektor, apakah sudah benar2 disampaikan sampai ke panitia KPR...
Walaupun jawaban KPR saat sosialisasi kurang memuaskan (bagi saya) tetapi usaha BEM dan DPM untuk mengawal proses berjalannya pemilihan rektor...InsyaAllah sudah menemukan titik cerah, setidaknya walaupun kita belum mempunyai Majelis Wali Amanat layaknya kampus2 negeri yang berfungsi sebagai Controler atas berbagai kebijakan kampus, untuk fase ini dan mendatang InsyaA, bargaining power mahasiswa lebih baik,
salah satunya bisa dilihat dari proses pemilihan rektor yang sebelumnya benar2 tertutup dan penuh dengan intrik2 politis antara (PT Telkom,YPT dan IMT)yang kita tidak tahu sama sekali .Namun untuk kali ini akan pemilihan tersebut lebih transparan yang dibuktikan dengan adanya perwakilan mahasiswa (saudari Aish- Risha Novella) yang menjadi anggota KPR, dan dibolehkannya representatif dari mahasiswa (BEM dan DPM) oleh Ketua YPT masuk ke dalam sidang senat untuk menyampaikan pendapatnya (hak bicara, sebab hak suara semata-mata hanya dimiliki dewan senat)dalam rapat yang menentukan rektor IMT.
Memang proses ini masih sangat panjang....tetap harus terus berusaha agar kita mempunyai kewenangan lebih, saat ini kita baru bisa menyeleksi calon2 rektor (dari 5 menjadi 3), untuk kedepannya..kita harus bisa menentukan inilah rektor kita, bukan semata2 menyeleksi (from selection into election by IMT students)..
Hidup Mahasiswa!!!
@KangHarry: mhn maaf apabila anak2 BEM msh sedikit yg aktif di students (termasuk saya jg)...nanti sy sampaikan, sebagai aktivis kmpus hrs jd aktivis jg di students...
-------------------------------------------------------------
Yukyukyuk
-Tetep Kritis dan Berpikir positif-
asduuh ibul ,inimah opini pribadi BUKAN as anggota DPM or SEF, kan udah jelas judulnya opini ane bukan opini DPM, bisa di getok, luther, aish, sama glih dan fadli saya wakwakwkawkak
kan kadang2 saya juga pengen ngeluarin opini as sudut pandang mahasiswa
ohh ya 3 artikel udah meluncur ke bem pusat, magazinc, bem fakultas dan bem abk, di tunggu dah responnya
inget ya as mahasiswa biasa
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
Sou
ay tot ayem priti hensem
IMT Senior
Thanks given: 1
Thanks received: 3
Posts: 123 Points: 188
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
Perlu diingat bahwasanya bila ke-lima balon rektor yang terpilih hasil seleksi yang nantinya disebarkan ke mahasiswa untuk polling... perlu dicermati latar belakang beliu.. jika bisa hingga ke niat murni mereka,,,
saya sarankan pengurus KM, dalam hal ini diwakilkan BEM, untuk mendekati ke-lima calon tersebut....
Uji lah ketulusan niat mereka...!!
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
rizkysaputra
Mungkin Tukang Spam
Thanks given: 0
Thanks received: 0
Posts: 9 Points: 22
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
boleh juga lhoo shame argumennya, truss buru2 mau kemana ni, lagi jam booking yang sibuk yak
ayoo shame kita majuin kampus 2, artikel ini udah saya kirim ke tim advokasi abk lho
kenapa coba kalo saya buru buru dikaitinnya sama book? saya ada siaran bang. ayo bang bantu majuin kampus 2 secara khusus dan IMT secara umum, serta SEF tentunya hahahaha
Sebenernya percuma, bahkan amat sangat percuma kalo mahasiswa mau ningkatin bargaining power. buat apa? ga akan ada gunanya kalo punya bargaining powerb yang tinggi kalo ga akan digunakan, melihat sikap most of students di IMT yang cenderung apatis (sorry kalo claim, ga bisa kasih data statistik, tapi kenyataanya begitu). kalo udah punya bargaining power, so what? apa mahasiswa akan gunain bargaining power ini untuk mem-bargain kepentingan mereka rerhadap institusi? lah wong acara dan program kampus yang amat sangat penting dan moment nya 'pas' aja ga digunain. jadi nanti buat apa bargaining powernya? lain halnya kalo mahasiswa cenderung pro-aktif terhadap institusi, baik langsung maupun tidak langsung, pasti bargaining power dari mahasiswa sendiri akan meningkat. ada teori siapa gitu saya lupa yang bilang kalo power could be coming from unity. nah unity kan bisa dateng kalo mahasiswanya sendiri punya sikap yang pro-aktif. kalo cuma bem, dpm, dan segelintir orang aja ya akan sia-sia.
sebenernya saya sendiri ga begitu setuju dengan pemilihan langsung yang otoritasnya diberikan 100% kepada masyarakat umum (mahasiswa IMT) melihat (lagi) kecendurungan sikap mereka yang apatis. akan amat sangat mungkin kalo akan terjadi provokasi. selain itu akan banyak orang milih berdasarkan "ikut aja" atau asal pilih. hal ini saya liat waktu pemilihan DPRD dan DPD kemaren. banyak banget masyrakat yang ga tau siapa calonnya, apa visi misinya, programnya, sepak terjangnya, dan lain-lain yang pantes jadi pertimbangan salam memilih. Saya sih lebih cenderung untuk sistem perwakilan dan permusyawaratan TAPI mahasiswa diibatkan dengan mekanisme birokrasi BEM, DPM, dan sebgainya. saya sih ngeliat sila ke-4 "4.Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN". jadi tetep dengan sistem musyawarah, tapi tetep dikontrol oleh mahasiswa yang diwakili oleh BEM, DPM, dan sebagainya. Jangan sampe satu calon bisa menang karena dipilih berdasarkan "ikut aja" atau kampanye yang sukses, provokasi, "approach" yang berhasil.
Segini dulu deh, sorry kalo kebanyakan. Sorry kalo ada yang ga suka. Ini pendapat saya yang pengen saya keluarkan di media atau forum yang tepat. hahaha
|
|
|
|
Last Edit: 2010/05/11 15:18 By rizkysaputra.
|
|
0
users have
thanked:
|
sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
Rizky Saputra wrote:
boleh juga lhoo shame argumennya, truss buru2 mau kemana ni, lagi jam booking yang sibuk yak
ayoo shame kita majuin kampus 2, artikel ini udah saya kirim ke tim advokasi abk lho 
kenapa coba kalo saya buru buru dikaitinnya sama book? saya ada siaran bang. ayo bang bantu majuin kampus 2 secara khusus dan IMT secara umum, serta SEF tentunya hahahaha
Sebenernya percuma, bahkan amat sangat percuma kalo mahasiswa mau ningkatin bargaining power. buat apa? ga akan ada gunanya kalo punya bargaining powerb yang tinggi kalo ga akan digunakan, melihat sikap most of students di IMT yang cenderung apatis (sorry kalo claim, ga bisa kasih data statistik, tapi kenyataanya begitu). kalo udah punya bargaining power, so what? apa mahasiswa akan gunain bargaining power ini untuk mem-bargain kepentingan mereka rerhadap institusi? lah wong acara dan program kampus yang amat sangat penting dan moment nya 'pas' aja ga digunain. jadi nanti buat apa bargaining powernya? lain halnya kalo mahasiswa cenderung pro-aktif terhadap institusi, baik langsung maupun tidak langsung, pasti bargaining power dari mahasiswa sendiri akan meningkat. ada teori siapa gitu saya lupa yang bilang kalo power could be coming from unity. nah unity kan bisa dateng kalo mahasiswanya sendiri punya sikap yang pro-aktif. kalo cuma bem, dpm, dan segelintir orang aja ya akan sia-sia.
sebenernya saya sendiri ga begitu setuju dengan pemilihan langsung yang otoritasnya diberikan 100% kepada masyarakat umum (mahasiswa IMT) melihat (lagi) kecendurungan sikap mereka yang apatis. akan amat sangat mungkin kalo akan terjadi provokasi. selain itu akan banyak orang milih berdasarkan "ikut aja" atau asal pilih. hal ini saya liat waktu pemilihan DPRD dan DPD kemaren. banyak banget masyrakat yang ga tau siapa calonnya, apa visi misinya, programnya, sepak terjangnya, dan lain-lain yang pantes jadi pertimbangan salam memilih. Saya sih lebih cenderung untuk sistem perwakilan dan permusyawaratan TAPI mahasiswa diibatkan dengan mekanisme birokrasi BEM, DPM, dan sebgainya. saya sih ngeliat sila ke-4 "4.Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan DALAM PERMUSYAWARATAN/PERWAKILAN". jadi tetep dengan sistem musyawarah, tapi tetep dikontrol oleh mahasiswa yang diwakili oleh BEM, DPM, dan sebagainya. Jangan sampe satu calon bisa menang karena dipilih berdasarkan "ikut aja" atau kampanye yang sukses, provokasi, "approach" yang berhasil.
Segini dulu deh, sorry kalo kebanyakan. Sorry kalo ada yang ga suka. Ini pendapat saya yang pengen saya keluarkan di media atau forum yang tepat. hahaha
mantapp shame, sayapunya jawaban atas pertanyaan dan teori kamu di posting saya berikutnya
ini calon penerus saya nii hahahahahahaha
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
irul89
kangen students yang rame...
IMT Senior
Thanks given: 2
Thanks received: 1
Posts: 194 Points: 251
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
terkadang kalau bowo udah berbicara panjang gua bingung mau komen apa  ) tapi sejauh mata memandang.. saya menyadari betul bahwa memang dalam proses pemilihan rektor ini kita mahasiswa tidak memiliki nilai tawar sama sekali semua keputusan hak mutlak milik senat.. pada proses poling nantinya juga... setahu saya itu hanya untuk menjadi sebuah refrensi nantinya... mangkanya mekanisme sperti itu... (setahu kabar yang gua miliki samapai saat ini) dimana kita akan memilih 3 calong dengan sistem rangking (prioritas) sehingga akan muncul yang katanya 3 calon rektor prioritas dari mahasiswa dan karyawan... yang akan diajukan ke senat nantinya (ah ribet ah kalau cerita mah)
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
sef im telkom
go go go go
IMT Senior
Thanks given: 5
Thanks received: 7
Posts: 163 Points: 204
|
|
Re: opini panjang ane gan, kalo mau kulik2 aja :P 2 Years ago
|
|
|
|
|
|
|
|
|
0
users have
thanked:
|
|